Dari Cabbagecore sampai Skirted Sofa: Ini 4 Resep Jitu Desain Furnitur yang Wajib Diikuti Biar Viral di 2026
Uncategorized

Dari Cabbagecore sampai Skirted Sofa: Ini 4 Resep Jitu Desain Furnitur yang Wajib Diikuti Biar Viral di 2026

Pernah nggak sih ngerasa, desain furnitur tuh sekarang kayak udah beda banget. Dulu kita kenal gaya minimalis, mid-century modern, atau Skandinavian—itu aja yang rame. Tapi coba liat feed Instagram atau TikTok akhir-akhir ini. Tiba-tiba muncul sofa ber”rok” kayak punya nenek-nenek, motif kubis di piring makan, atau ruangan yang sengaja dibuat nggak sempurna biar keliatan “hidup”. Ini bukan cuma soal estetika doang. Ada psikologi dan strategi di balik viralnya sebuah furnitur. Dan yang paling seru: kita sebagai desainer muda malah jadi aktor utamanya.

Gue penasaran banget, kenapa sih sekarang tren desain yang dulu dianggap “kuno” atau “aneh” malah jadi incaran? Apa karena emang orang bosen sama yang itu-itu aja? Atau karena ada kebutuhan psikologis yang lebih dalam? Yuk, kita bedah satu per satu.


Dari Kubis sampai Rok: Empat Tren yang Dominasi 2026

Tahun 2026 ini, dunia desain interior lagi ngalamin pergeseran gila-gilaan. Menurut laporan 1stDibs, gaya yang paling banyak diminta sekarang adalah maximalism dan eclecticism, dengan peningkatan masing-masing 39 persen dan 38 persen . Ini sinyal jelas: orang udah muak sama minimalis yang kaku dan mulai merangkul kompleksitas.

Nah, dari sekian banyak tren, ada empat yang paling dominan di media sosial dan punya potensi viral paling gede. Empat ini yang bakal kita bedah: Cabbagecore, Skirted Furniture, Broken Floor Plan, dan Friction-Maxxing .


1. Cabbagecore: Dari Sayuran Jadi Statement Kelas Atas

Kita mulai dari yang paling absurd dulu: cabbagecore. Iya, tren yang bikin sayur kubis jadi pusat perhatian di meja makan dan dinding rumah.

Siapa sangka, pencarian “cabbageware” di Pinterest naik 250 persen di 2025, dan hashtag #CabbageCore di TikTok naik 115 persen cuma dalam tiga bulan . Ini bukan cuma iseng-iseng berhadiah. Ini adalah fenomena yang punya akar sejarah panjang.

Cabbagecore sebenarnya bukan barang baru. Pada 1884, pembuat tembikar asal Portugal, Rafael Bordallo Pinheiro, bikin koleksi majolica earthenware berbentuk daun kubis yang jadi ikon kerajinan Eropa . Lalu di tahun 1960-an, Dodie Thayer dari Palm Beach—yang dijuluki “ratu tembikar”—membuat lettuceware dengan mencetak langsung dari daun selada asli. Koleksinya jadi incaran selebriti kayak Jackie Kennedy, C.Z. Guest, dan Duchess of Windsor .

“Gaya ini nggak menganggap dirinya terlalu serius. Ada semacam surrealist maximalism yang justru jadi chic karena absurditasnya,” tulis ELLE Decor .

Psikologi di baliknya: Cabbagecore adalah bentuk perlawanan terhadap desain yang serius dan kaku. Di tengah dunia yang penuh tekanan, kita butuh elemen yang playful dan nggak terduga. Ini juga bentuk nostalgia terhadap estetika taman dan kehidupan pedesaan yang lebih tenang—mirip dengan tren cottagecore yang sebelumnya hits.

Strategi viralnya:

  • Sejarah yang kuat: Bukan tren instan, tapi punya legacy yang bisa diceritakan
  • Elemen kejutan: Kubis sebagai inspirasi desain itu nggak terduga, bikin orang penasaran
  • Versatility: Bisa diaplikasikan di piring, wallpaper, tekstil, sampai lampu

Tips buat kamu:

  • Jangan overdo. Seperti kata desainer Mary McDonald, “Kamu nggak mau keliatan kayak tinggal di toko kerajinan” .
  • Mulai dari koleksi piring di dinding atau satu set peralatan makan yang jadi focal point
  • Kalau mau berani, aplikasikan di ruang kecil seperti powder room atau entry vestibule, di mana eksuberansinya terasa terkontrol 

2. Skirted Furniture: “Rok” yang Bikin Sofa Naik Kelas

Tren kedua yang lagi menggila adalah skirted furniture—furnitur yang kakinya ditutup kain sampai nyaris menyentuh lantai, lengkap dengan ruffle, pleats, atau detail ala dressmaker.

Ini adalah salah satu tren seating terbesar di 2026 . Yang menarik, ini adalah bentuk comeback dari gaya yang dulu dianggap “norak” dan identik dengan rumah nenek-nenek. Tapi sekarang, dengan sentuhan modern, skirted furniture justru jadi simbol “granny-chic” yang kekinian.

“Ada sesuatu yang romantis dan berakar dari skirt yang tailored atau ruffled. Rasanya familiar sekaligus segar,” kata desainer Cate Gutter .

Psikologi di baliknya: Skirted furniture menjawab kerinduan akan kehangatan dan tekstur di tengah dominasi desain minimalis yang dingin. Ini juga tentang nostalgia—mengingatkan kita pada masa kecil di rumah kakek-nenek. Selain itu, rok furnitur juga punya fungsi praktis: menyembunyikan kaki yang udah jelek, menutupi storage, atau bahkan menyembunyikan pipa yang nggak kece .

Strategi viralnya:

  • Visual impact: Bentuknya beda banget dari sofa biasa, auto bikin orang nengok
  • Nilai nostalgia: Menyentuh sisi emosional audiens
  • Fleksibilitas: Bisa diaplikasikan di sofa, tempat tidur, kursi, bahkan meja samping

Tips buat kamu:

  • Pilih detail “dressmaker” kayak contrast piping, box pleats yang rapi, atau tailored hems yang nyaris menyentuh lantai—ini yang bikin keliatan modern, bukan kuno 
  • Gunakan kain linen, stripe, atau solid velvet—hindari print yang terlalu ramai 
  • Balance with modern pieces. Jangan semua furnitur ber-rok, nanti malah keliatan outdated. Campur dengan furnitur berkaki untuk keseimbangan 
  • Kalau budget terbatas, bisa DIY pake slip cover dan bed skirt kayak yang viral di TikTok—salah satu kreator berhasil transform IKEA SÖDERHAMN cuma dengan modal $18 untuk bed skirt-nya 

3. Broken Floor Plan: Anti-Open Space yang Bikin Ruangan Punya Identitas

Tren ketiga ini lebih ke tata ruang: broken floor plan. Lawan dari open plan yang selama ini mendominasi.

Di TikTok, penolakan terhadap tata ruang terbuka udah jadi genre tersendiri. Broken floor plan bukan berarti balik ke ruang-ruang tertutup sepenuhnya, tapi pendekatan hibrida: archways, partial walls, perubahan level lantai, atau penataan furnitur strategis buat menciptakan zona-zona yang jelas .

Psikologi di baliknya: Ini jawaban atas kebutuhan akan privasi dan batasan di era kerja hybrid. Siapa sih yang nggak pernah frustasi pas meeting online terus ada suara blender dari dapur cuma 5 meter? Broken floor plan juga memungkinkan setiap ruang punya identitas sendiri—beda sama open plan yang bikin semua ruang harus serasi karena keliatan dari mana-mana .

Strategi viralnya:

  • Solusi masalah nyata: Orang butuh privasi dan pengurangan noise
  • Estetika yang kuat: Sunken living room (gaya 1970-an) jadi salah satu elemen yang kembali dan bikin ruangan keliatan lebih dramatis 

Tips buat kamu:

  • Gunakan rak buku atau partisi geser sebagai pembatas zona yang fleksibel
  • Pertimbangkan perubahan ketinggian lantai untuk pemisahan visual tanpa tembok
  • Manfaatin pencahayaan berbeda per zona untuk memperkuat identitas ruang

4. Friction-Maxxing: Sengaja Dibuat Nggak Instan Biar Terasa “Hidup”

Tren keempat ini yang paling filosofis: friction-maxxing. Istilah ini mulai viral sebagai konsep budaya yang lebih luas, tapi sekarang merambah ke desain interior dengan kekuatan yang mengejutkan .

Intinya: tech companies selama ini berusaha menghilangkan semua “gesekan” dalam hidup kita—dari pesan makanan sampai rencana liburan. Tapi dalam prosesnya, mereka juga menghilangkan momen-momen yang bikin hidup terasa nyata. Friction-maxxing adalah koreksinya: hapus delivery apps, tulis to-do list di kertas, masak dari buku resep fisik, dan di rumah? Singkirkan optimasi .

Di interior, ini berarti:

  • Main musik dari record player daripada speaker Bluetooth tersembunyi
  • Terangi ruangan dengan koleksi lampu meja daripada satu saklar pintar
  • Rak buku diisi buku beneran, bukan buku palsu buat estetika
  • Furnitur sengaja dibuat nggak sempurna, punya “cacat” yang jadi ciri khas

Psikologi di baliknya: Ini adalah reaksi terhadap dunia digital yang serba mulus dan cepat. Kita haus akan kehadiran, intensi, dan kepuasan kecil dari melakukan sesuatu sendiri. “Friction-maxxed home asks a little more of you, and the argument is that it gives more back” .

Strategi viralnya:

  • Konten naratif: Proses, bukan cuma hasil akhir
  • Keaslian: Nggak ada yang bisa fake-in, karena ini soal pengalaman

Tips buat kamu:

  • Desain furnitur dengan elemen “ketidaksempurnaan” yang disengaja—tekstur kasar, asimetri, atau detail handmade
  • Ciptakan pengalaman interaktif: furniture yang ngajak orang “melakukan” sesuatu, bukan cuma dilihat

Studi Kasus: Tiga Brand yang Berhasil Bikin Furnitur Viral

1. TOV Furniture: “Fashion Furniture” yang Dibuat buat Feed

TOV Furniture adalah contoh sempurna gimana desain furnitur bisa viral. Didirikan tahun 2013 oleh pasangan suami-istri Chaya dan Bruce Krinsky, brand ini sengaja membidik konsumen yang “digitally savvy, nggak mau habis weekend di showroom, dan nyaman belanja online” .

Strategi mereka:

  • Bold, feminine silhouettes: Sofa rounded, fringe detailing, playful prints
  • Intentionally photogenic: “In 2026, if your couch doesn’t go viral, does it even exist?” 
  • Ciri khas kuat: “Ketika seseorang lihat sofa dan langsung tahu itu TOV, itu tandanya kita berhasil” 

Hasilnya? Sofa “bubble” mereka jadi best-seller massive dan sering muncul di TikTok apartment reveals yang ditonton jutaan orang.

Pelajaran: Bangun identitas brand yang kuat dan desain yang recognizable, bukan cuma ngikutin tren.

2. IKEA: “Affordable Masterpieces” yang Main di Nostalgia

IKEA, brand yang biasanya identik dengan affordable furniture, punya strategi berbeda: mereka nge-link desain mereka dengan karya seni klasik. Dalam kampanye “Affordable Masterpieces”, mereka membandingkan furnitur IKEA dengan yang ada di lukisan Henri Matisse, Paul Cézanne, dan Edvard Munch .

Pesan kampanyenya: “Good design is timeless. And if it belongs in a museum, it probably belongs in your home too” .

Pelajaran: Koneksikan desainmu dengan narasi yang lebih besar—sejarah, seni, atau budaya. Ini ngasih value tambahan yang bikin produk lebih dari sekadar fungsi.

3. DIY Skirted Sofa: Dari IKEA Hack Jadi Viral Sensation

Kreator konten Mallory Wackerman membuktikan bahwa furnitur viral nggak harus mahal. Dia punya IKEA SÖDERHAMN bekas yang udah kusam. Daripada beli baru, dia beli slip cover velvet biru $190 dan bed skirt $18 di Amazon, lalu menggabungkannya jadi skirted sofa yang stylish .

Videonya di TikTok langsung viral karena:

  • Relatable: Banyak yang punya sofa IKEA bekas
  • Affordable: Solusi murah dibanding beli sofa baru atau cover bermerek $600-800
  • DIY angle: Orang suka tutorial yang bisa ditiru

Pelajaran: Jangan remehkan power of DIY. Banyak orang lebih suka solusi yang accessible dan bisa mereka tiru sendiri.


3 Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan Desainer Muda

Melihat tren ini, banyak yang kepincut buat ikutan. Tapi, ada beberapa jebakan yang sering bikin desain cuma jadi tren sesaat.

  1. Cuma Ikut-ikutan, Tanpa Punya Ciri Khas: Viral boleh cepat, tapi desain butuh identitas. Jangan cuma bikin cabbagecore atau skirted sofa tanpa ada sentuhan personal yang bikin orang inget sama kamu. Seperti kata TOV: “When someone sees a sofa and immediately knows it’s TOV, that’s when we know we’ve done our job” .
  2. Mengorbankan Fungsi Demi Estetika: Ini jebakan klasik. Desain bagus, tapi nggak nyaman dipakai atau susah dirawat. Ingat, furnitur itu untuk dipakai, bukan cuma difoto. Skirted sofa yang terlalu panjang bisa bikin kesetrum debu, cabbagecore yang berlebihan bisa bikin ruangan keliatan kayak pasar sayur.
  3. Nggak Paham Target Audiens: Desain yang viral di satu platform belum tentu cocok di platform lain. Pahami siapa yang mau beli furnitur kamu, platform apa yang mereka pake, dan gaya hidup mereka kayak gimana. TOV sukses karena mereka paham betul konsumennya: “Digitally savvy, comfortable buying online, doesn’t want to spend a weekend in showrooms” .

Tips Praktis: Gimana Bikin Desain Furnitur yang Berpotensi Viral?

Oke, buat kamu yang pengen desainnya bisa viral, nih tipsnya:

  1. Bikin Konten Proses, Bukan Cuma Hasil: Orang suka lihat “behind the scenes”—gimana kamu bikin desain, tantangan yang dihadapi, dan momen “aha” saat semuanya menyatu. Ini bentuk friction-maxxing yang bikin konten lebih autentik.
  2. Ceritakan Sejarah di Balik Desain: Seperti cabbagecore yang punya akar sejarah sampai 1884, atau skirted furniture yang terinspirasi kursi abad 17 . Narasi sejarah nambah value dan bikin desain lebih berbobot.
  3. Kolaborasi dengan Kreator Lain: Kerja sama dengan konten kreator atau influencer yang relevan bisa mempercepat exposure. TOV sering muncul di video “apartment reveal” yang viral . Cari kreator yang audiensnya sejalan sama target pasarmu.
  4. Jangan Takut Bereksperimen: Tren 2026 menunjukkan bahwa desain yang “aneh” dan nggak terduga punya potensi viral besar. Cabbagecore adalah contoh sempurna—siapa sangka kubis bisa jadi inspirasi desain yang chic? .
  5. Pikirin Fungsinya: Skirted furniture nggak cuma cantik, tapi juga bisa nyembunyiin storage atau pipa jelek . Broken floor plan nggak cuma aesthetic, tapi juga atasi masalah noise dan privasi . Desain yang solve masalah punya daya tahan lebih lama.

Kesimpulan: Viral Bukan Kebetulan, Ini Strategi

Jadi, balik lagi ke pertanyaan awal: Kenapa cabbagecore dan skirted furniture bisa viral di 2026?

Jawabannya, ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari strategi yang matang: memanfaatkan psikologi audiens (kerinduan akan kehangatan, nostalgia, dan keaslian), membangun narasi sejarah yang kuat, menciptakan visual yang beda dan memorable, serta memahami platform dan cara kerja algoritma.

“In 2026, if your couch doesn’t go viral, does it even exist?” kata TOV Furniture . Ini mungkin berlebihan, tapi ada benarnya: desain sekarang nggak cuma harus bagus di mata, tapi juga bagus di feed.

Dan yang paling penting, tren ini menunjukkan kalau kita sebagai desainer muda punya kuasa. Dengan kreativitas, pemahaman psikologi audiens, dan strategi konten yang tepat, kita bisa bikin desain yang nggak cuma viral, tapi juga punya dampak dan diingat orang.

Viral itu bisa diciptakan, bukan cuma ditunggu. Sudah siap bikin desainmu jadi bintang berikutnya?

Anda mungkin juga suka...