Gue baru aja selesai belanja mebel. Bukan ke IKEA. Bukan ke toko furniture modern. Tapi ke bengkel kayu di pinggiran Jakarta. Tempat pengrajin tua yang bikin meja dari kayu jati bekas. Kusen rumah tua. Kapal yang sudah tidak layak pakai. Kayu yang punya cerita. Yang dulu menjadi bagian dari bangunan. Sekarang dibongkar, dipahat, dihaluskan, menjadi meja. Meja yang tidak sempurna. Ada serat. Ada lubang bekas paku. Ada cacat yang justru membuatnya unik. Gue pesan satu. Harga Rp *12* juta. Di IKEA, meja dengan ukuran yang sama mungkin Rp *3* juta. Tapi meja IKEA akan sama dengan jutaan meja lain di seluruh dunia. Meja dari pabrik. Meja tanpa cerita. Meja tanpa jiwa. Meja dari bengkel ini? Unik. Tidak ada duanya. Setiap goresan bercerita. Setiap lubang bekas paku mengingatkan bahwa kayu ini pernah menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Dan sekarang, menjadi bagian dari rumah gue. Dulu, gue pikir IKEA adalah pilihan pintar. Murah. Praktis. Desain minimalis. Mudah dirakit. Tapi lama-lama, gue merasa rumah gue sama dengan rumah orang lain. Meja sama. Kursi sama. Lemari sama. Semua sama. Rumah gue kehilangan identitas. Rumah gue menjadi salah satu dari jutaan rumah dengan katalog yang sama. Sekarang? Sekarang rumah gue punya cerita. Meja dari kayu jati bekas rumah tua. Kursi rotan anyaman tangan dari Cirebon. Lemari peninggalan kakek yang direstorasi. Setiap barang punya cerita. Setiap barang punya jiwa. Setiap barang mencerminkan siapa gue. Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin kuat. Artisan furniture. Mebel lokal buatan tangan. Kayu jati bekas. Rotan anyaman. Bambu. Kerajinan desa. Semua laku keras. Generasi muda—25-40 tahun—mulai meninggalkan IKEA. Bukan karena mahal. Bukan karena nggak suka. Tapi karena mereka haus akan identitas. Haus akan keunikan. Haus akan sesuatu yang bercerita. Di tengah dunia yang semakin seragam, mereka memilih berbeda. Memilih lokal. Memilih tangan manusia. Memilih jiwa. Artisan Furniture: Ketika Generasi Muda Memilih Berbeda Gue ngobrol sama tiga orang yang beralih ke artisan furniture. Cerita mereka: lelah dengan homogenitas, haus akan cerita. 1. Dina, 28 tahun, arsitek yang mendesain rumahnya dengan furniture artisan. Dina bekerja di dunia desain. Dia melihat perubahan besar dalam selera klien. “Dulu, semua klien minta desain minimalis. Furniture IKEA. Putih. Kosong. Sekarang, mereka minta yang berkarakter. Kayu tua. Rotan. Ukiran. Mereka mau rumah yang bercerita. Bukan cuma rumah yang fungsional.” Dina sendiri memilih artisan furniture untuk rumahnya. “Gue punya meja dari kayu jati bekas rumah tua. Setiap kali gue melihatnya, gue membayangkan rumah itu. Keluarga yang tinggal di sana. Cerita yang terjadi. Meja ini bukan cuma meja. Ini adalah sejarah. Ini adalah kenangan. Ini adalah jiwa.” 2. …