Gue baru aja liat bangku yang tumbuh dari jamur. Iya, beneran. Bukan diukir, bukan dipaku—tapi ditumbuhkan. Dan pas gue dudukin, rasanya aneh. Hangat. Kayak ada yang hidup di bawah gue.
Pernah ngerasain barang yang terasa “hidup”? Bukan cuma aesthetic, tapi ada relasi?
Di 2026, mycelium—akar jamur yang biasanya cuma kita liat di bawah pohon—lagu jadi bahan paling dicari di dunia furnitur. Bukan cuma karena ramah lingkungan (itu udah basi). Tapi karena mereka ngegantiin relasi kita sama barang. Dari “punya” jadi “hidup bersama.”
Ini bukan sekadar tren desain. Ini symbiotic interior—rumah yang bukan cuma ditempati, tapi dihuni bareng sama material yang tumbuh.
Dari ‘Punya’ ke ‘Hidup Bersama’
Selama ini, kita beli meja, kita punya meja. Kalo rusak, kita buang. Kalo bosan, kita ganti. Relasinya transaksional. Tapi mycelium ngubah itu semua. Karena mycelium tumbuh. Dan pertumbuhan itu butuh perhatian.
Ini bukan cuma soal “bahan alami.” Ini soal relasi. Desainer Jasper Scheffer bikin proyek bernama Thermocelium—termostat hidup dari mycelium Reishi . Bukan ngukur suhu pake angka, tapi tumbuh lebih banyak kalo ruangan makin hangat. Dia tinggal bareng termostat ini seminggu. Dan dia bilang: “Thermocelium didn’t give me data. It asked for care. It turned heat from an abstract number into something intimate, alive even” .
Ini yang gue sebut symbiotic interior. Rumah bukan lagi kumpulan objek mati. Tapi ekosistem kecil di mana lo dan barang-barang lo saling mempengaruhi.
Mycelium Bukan Cuma ‘Ramah Lingkungan’
Iya, mycelium itu biodegradable. Iya, mereka pake limbah pertanian. Tapi itu cuma bonus. Yang bikin mycelium berharga di 2026 adalah kemampuannya untuk tumbuh jadi bentuk yang lo mau.
Prosesnya simpel: limbah pertanian (serbuk gergaji, jerami, ampas tebu) dicampur sama spora mycelium, dimasukin ke cetakan, dibiarin 4-10 hari. Mycelium tumbuh, mengikat semuanya jadi massa padat. Lalu dipanasin buat stop pertumbuhan . Hasilnya? Bahan yang berasa kayak kayu, tapi lebih ringan, lebih hangat, dan punya tekstur yang nggak bisa direplikasi mesin .
Sifatnya bisa diatur: mau isolasi? Mau kedap suara? Mau tahan api? Semua bisa diatur dari komposisi substrat dan kondisi tumbuh . Ini bukan bahan jadi. Ini bahan yang lo desain dari awal—termasuk “kepribadiannya.”
Studi Kasus: Mycelium Udah Bukan Konsep
1. Mogu: Akustik yang Tumbuh
Mogu, perusahaan Italia, udah produksi panel akustik dari mycelium sejak 2015. Mereka campur mycelium sama serat tekstil daur ulang atau serat rami. Hasilnya? Panel yang ringan, biodegradable, dan nyerep suara lebih baik dari bahan sintetis . Di Expo 2025 di Jepang, mereka pasang ratusan panel di Paviliun Jerman . Ini bukan “produk eksperimen.” Ini material industri.
2. Aifunghi: Kursi yang Lulus Uji Kontrak
Startup Belanda Aifunghi nunjukin kursi Banet—kursi mycelium pertama yang lulus uji Contract Level 1 . Artinya? Cukup kuat buat restoran dan kantor. Intinya: kayu, tapi tumbuh dari jamur. Dan mereka pake busa dari alga, wol daur ulang, atau katun—lo bisa pilih vegan atau nggak .
3. MYCL: Indonesia di Panggung Global
Di Bandung, Mycotech Lab (MYCL) udah produksi mycelium komposit sejak 2015 . Produk mereka: Mylea (kulit sintetis dari jamur), BioBo (papan partikel tanpa perekat kimia), dan Shrum (bangku yang nyimpen karbon lebih banyak dari yang dihasilkan selama produksi) . Mereka udah lisensi ke Jepang, dapet pendanaan dari AgFunder dan Plug and Play . Bahkan Shrum punya emisi karbon negatif: -2.679 kg CO2-eq . Ini bukan bahan “hijau” doang. Ini bahan yang nyerap polusi.
Data: Pasar Udah Bergerak
Pasar mycelium komposit diprediksi dari $1.7 miliar di 2025 ke $2.9 miliar di 2032 (CAGR 7.9%) . Bahan ini punya isolasi suara dan tahan api yang lebih baik dari bahan sintetis tradisional . Di Asia, MYCL udah buktiin mycelium komposit punya emisi karbon 10% lebih rendah per kubik dibanding material struktural dekoratif lain .
Ini bukan “hype.” Ini pergeseran material.
Panduan Praktis: Mulai Hidup Bareng Mycelium
Lo nggak perlu langsung beli meja mycelium. Coba dulu:
- Mulai dari yang kecil. Kits mycelium DIY mulai dari $8-$12 per kaki kubik . Lo bisa bikin coaster, tempat lampu, atau panel dinding kecil di rumah. Ini cara lo merasakan materialnya—tekstur, berat, dan prosesnya.
- Cari produk lokal. MYCL di Bandung udah produksi BioBo (papan partikel) dan Mylea Sea (tas dari alga) . Dukung yang lokal—jejak karbonnya lebih kecil dan lo bisa liat langsung prosesnya.
- Perlakukan mycelium kayak tanaman. Jangan taruh di tempat lembap terus-terusan. Kalo udah di-cure dan di-seal, mycelium aman—tapi kalo dibiarin basah, bisa tumbuh lagi . Ini bukan “beli dan lupakan.” Ini berelasi.
- Coba “living thermostat” ala Jasper Scheffer. Lo nggak perlu bikin termostat dari mycelium. Tapi lo bisa mulai memperhatikan gimana material di rumah lo bereaksi sama suhu, kelembapan, dan cahaya. Itu awal dari symbiotic interior.
Kesalahan Umum Soal Mycelium
- Menganggap mycelium = jamur meja. Mycelium itu akar jamur, bukan jamur yang lo makan. Produk mycelium udah di-cure—artinya nggak tumbuh lagi. Jadi nggak ada “jamur di meja makan lo.”
- Terlalu fokus pada “ramah lingkungan.” Iya, itu penting. Tapi nilai sebenarnya mycelium adalah kemampuan desain—lo bisa tumbuhin bentuk yang nggak bisa dibuat mesin. Ini soal kemungkinan, bukan cuma etika.
- Menganggap mycelium lemah. Mycelium komposit punya kekuatan tekan 60-120 psi, cukup buat kursi, meja, dan panel interior . Bukan buat rangka jembatan, tapi buat furnitur rumah? Cukup.
- Mengabaikan perawatan. Mycelium yang udah di-cure dan di-seal tahan lama. Tapi kena air terus-terusan? Bisa rusak. Rawat kayak lo rawat kayu—dilap, dijaga dari kelembapan berlebih .
Kesimpulan: Hidup Bareng Bukan Cuma Punya
Di 2026, mycelium bukan lagi bahan “masa depan.” Ini bahan sekarang. Tapi yang bikin ini berharga bukan cuma karena hijau atau murah. Tapi karena ngubah cara kita berelasi sama barang.
Dari “gue beli meja ini” jadi “gue tumbuhin meja ini.” Dari “gue punya” jadi “gue hidup bareng.” Jasper Scheffer bilang: “Thermocelium didn’t give me data. It asked for care” . Itu intinya.
Mycelium ngingetin kita: rumah bukan cuma wadah. Tapi ekosistem. Dan di ekosistem itu, lo bukan pemilik—lo bagian dari proses.
